Jumat, 06 Desember 2013

Profile Mini Teaching Hospital PSPA UII APOTEKER


Kamis, 05 Desember 2013

KENALI VERTIGO SEJAK DINI


Vertigo dapat adalah salah satu bentuk gangguan keseimbangan dalam telinga bagian dalam sehingga menyebabkan penderita merasa pusing dalam artian keadaan atau ruang di sekelilingnya menjadi serasa 'berputar' ataupun melayang. Vertigo menunjukkan ketidakseimbangan dalam tonus vestibular. Hal ini dapat terjadi akibat hilangnya masukan perifer yang disebabkan oleh kerusakan pada labirin dan saraf vestibular atau juga dapat disebabkan oleh kerusakan unilateral dari sel inti vestibular atau aktivitas vestibulocerebellar

 

Perkataan vertigo berasal dari bahasa Yunani vertere yang artinya memutar (2). Pengertian vertigo adalah : sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh. Vertigo (sering juga disebut pusing berputar, atau pusing tujuh keliling) adalah kondisi di mana seseorang merasa pusing disertai berputar atau lingkungan terasa berputar walaupun badan orang tersebut sedang tidak bergerak.

Kelainan ini terjadi karena gangguan keseimbangan baik sentral atau perifer, kelainan pada telinga sering menyebabkan vertigo. Untuk menentukan kelainan yang menyebabkan vertigo, dokterTHT-KL biasanya akan melakukan pemeriksaan ENG (elektronistagmografi).

Gejala


Penderita merasa seolah-olah dirinya bergerak atau berputar; atau penderita merasakan seolah-olah benda di sekitarnya bergerak atau berputar.

Penyebab dan Diagnosa


Vertigo patogologis bisa bermacam-macam jenis. Ada yang sementara atau persisten, fungsional atau struktural penurunan nilai vestibular atau nilai visual, atau sistem proprioseptif sistem atau dari pusat integratif mealui suatu mekanisme juga menyebabkan "ketidakcocokan". Dengan kata lain banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum menentukan diagnosis vertigo.Evaluasi vertigo memiliki dua tujuan mendasar yakni: menentukan lokalisasi sumber asalnya dan menentukan etiologinya/penyebabnya.

Sebelum memulai pengobatan, harus ditentukan sifat dan penyebab dari vertigo. Gerakan mata yang abnormal menunjukkan adanya kelainan fungsi di telinga bagian dalam atau saraf yang menghubungkannya dengan otak. Nistagmus adalah gerakan mata yang cepat dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah. Arah dari gerakan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosa. Nistagmus bisa dirangsang dengan menggerakkan kepala penderita secara tiba-tiba atau dengan meneteskan air dingin ke dalam telinga. Untuk menguji keseimbangan, penderita diminta berdiri dan kemudian berjalan dalam satu garis lurus, awalnya dengan mata terbuka, kemudian dengan mata tertutup.Tes pendengaran seringkali bisa menentukan adanya kelainan telinga yang memengaruhi keseimbangan dan pendengaran.Pemeriksaan lainnya adalah CT scan atau MRI kepala, yang bisa menunjukkan kelainan tulang atau tumor yang menekan saraf. Jika diduga suatu infeksi, bisa diambil contoh cairan dari telinga atau sinus atau dari tulang belakang. Jika diduga terdapat penurunan aliran darah ke otak, maka dilakukan pemeriksaan angiogram, untuk melihat adanya sumbatan pada pembuluh darah yang menuju ke otak.

Jenis


Vertigo terbagi menjadi beberapa jenis namun secara umum berdasarkan keterlibatan vestibuluVertigo terbagi menjadi 2 jenis yakni vertigo direk/vestibuler dan vertigo indirek/non-vestibuler.

Vertigo vestibuler


Memiliki karakteristik: lesi di bagian perifer dari apparatus vestibuler seperti: organ vestibuler atau saraf vestibulokoklear. Pasien merasa lingkungan sekitarnya berputar (oscillopsia),rasanya naik turun seperti berada di atas kapal. Vertigo vestibuler seringkali diikuti dengan gejala otonom seperti nausea dan muntah serta nistagmus. Lesi vestibuler juga ada yang di bagian sentral contohnya lesi pada nukleus vestibuler di batang otak. Lesi sentral vestibuler juga bisa menyebabkan vertigo direk, akan tetapi secara umum lebih ringan dibandingkan lesi perifer. Gejala otonom juga cenderung lebih minim atau bahkan tidak ada.

Vertigo posisi jinak(benign paroksismal positional vertigo)


BPV sejauh ini merupakan penyebab paling umum dari vertigo. Merupakan hasil dari kristal kalsium karbonat yang mengambang bebas yang secara tidak sengaja memasuki lengan panjang kanalis semisirkularis posterior. Normalnya kristal ini melekat pada makula utricular. Dengan adanya perubahan posisi, kristal bergerak dalam endolymph dan menggantikan cupula sehingga menyebabkan vertigo.

vestibulopathy perifer akut (neuritis vestibular)


Merupakan jenis pemnyakit epidem dan dapat mempengaruhi beberapa anggota keluarga yang sama sekaligus. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada musim semi atau awal musim panas. Faktor-faktor resiko ini menunjukkan bahwa penyakit ini merupakan infeksi virus dan studi patologis menunjukkan atrofi dari satu atau lebih dari batang saraf vestibular, yang paling sesuai dengan proses infeksi atau pascainfeksi.

Sindrom Meniere


Berdasarkan Temuan patologis, prinsip dari penyakit ini adalah peningkatan volume endolimfe yang berhubungan dengan distensi seluruh sistem endolimfatik (hidrops endolymphatic). Pecahnya membran labirin mungkin dapat menjelaskan karakteristik mendadak dari episode-episode pada sindrom ini.

Vertigo nonvestibuler


Vertigo nonvestibuler seringkali sulit dideskripsikan secara jelas oleh pasien. Pasien biasanya mengeluhkan rasa pusing, kekosongan di kepala, dan gelap pada mata. Kondisi oscillopsia dan gejala otonom tidak pernah ditemukan. Lesi pada bagian saraf pusat dapat menyebabkan nistagmus patologis Vertigo nonvestibuler bisa disebabkan lesi pada bagian nonvestibuler dari sistem regulator keseimbangan atau bisa juga disebabkan kesalahan proses informasi di sistem saraf pusat(misal karena lesi cerebelar). Hipotensi ortostatik dan stenosis aorta dapat menjadi penyebab vertigo nonvestibuler.

Migrain


Vertigo yang disebabkan karena migrain dikarenakan Vasospasme atau cacat metabolik yang diturunkan.

Insufisiensi Vertebrobasilar


Biasanya disebabkan oleh aterosklerosis pada arteri subklavia, tulang belakang, dan basilar. Vertigo juga umum dihubungkan dengan infark batang otak lateral atau otak kecil.

Tumor sudut cerebellar-pontine


Tumor ini tumbuh lambat, memungkinkan sistem vestibular untuk mengakomodasi perubahan yang terjadi. Sehingga manifestasi klinis yang dihasilkan biasanya berupa sensasi samar ketidakseimbangan bukan vertigo akut.

Pengobatan


Pengobatan tergantung kepada penyebabnya.Obat untuk mengurangi vertigo yang ringan adalah meklizin, dimenhidrinat, perfenazin dan skopolamin. Skopolamin terutama berfungsi untuk mencegah motion sickness, yang terdapat dalam bentuk plester kulit dengan lama kerja selama beberapa hari. Semua obat di atas bisa menyebabkan kantuk, terutama pada usia lanjut. Skopolamin dalam bentuk plester menimbulkan efek kantuk yang paling sedikit.

Referensi


1.      ^abcdefg(Inggris) Martin A. Samuels M.D. (2004). Manual of Neurology Therapeutic. Lippincott Williams & Wilkins. -.

2.      ^(Inggris) Mark Mumenthaler,MD.,Heinrich Mattle,MD. (2004). NEUROLOGY 4th Edition. Thieme. ISBN 3-13-523904-7.

Perbaiki Pola Hidup Untuk Cegah Stroke

Surabaya, eHealth. Stroke adalah keadaan dimana terjadi gangguan neurologis yang bersifat lokal atau umum yang timbul secara mendadak, sehingga suplai darah ke jaringan otak berhenti dan dapat menyebabkan fungsi otak menjadi hilang/rusak. Penyakit ini merupakan pembunuh nomor tiga setelah penyakit jantung dan kanker.
Stroke terjadi karena adanya perubahan pola hidup. Penyakit ini rata-rata menyerang pada usia diatas 50 tahun, namun tidak menutup kemungkinan dapat terjadi di usia muda. Oleh karena itu waspadai hal-hal berikut:
  1. Mendadak lemas atau rasa tebal dari wajah, lengan atau kaki, terutama pada satu sisi tubuh.
  2. Mendadak bingung dan ada gangguan bicara dan pengertian.
  3. Mendadak ada gangguan pandangan, bisa 1 mata atau 2 mata sekaligus.
  4. Mendadak ada gangguan berjalan, sempoyongan atau kehilangan keseimbangan.
  5. Pusing kepala yang hebat tanpa sebab yang jelas.
Bila terjadi salah satu atau beberapa gejala diatas, segera pergi ke dokter. Penanganan yang cepat dan tepat akan menanggulangi stroke, terutama pada 3 jam pertama.
Namun stroke bukanlah penyakit yang tidak dapat dicegah, pencegahan penyakit ini dapat dilakukan melalui cara hidup sehat; seperti:
  1. Berhenti Merokok
  2. Perbaiki kebiasaan makan yang tidak teratur
  3. Berolah raga secara teratur
  4. Cek tekanan darah secara teratur
  5. Pertahankan berat badan yang dianjurkan.
  6. Kurangi emosi atau hal-hal yang menyebabkan stress
  7. Atur emosi
  8. Cek kesehatan secara teratur.

Berikut beberapa tips sederhana meminimalkan risiko terjadinya stroke:
  1. Waspadai stroke sejak usia muda dengan bersikap peduli sepanjang hidup.
  2. Jika usia lebih dari 35 tahun, periksa tekanan tekanan darah, kadar kolesterol dan kadar gula darah secara teratur paling tidak 6 bulan sekali.
     3.   Bagi penderita tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi atau gula darah tinggi, dianjurkan     minum obat secara teratur sesuai petunjuk dokter

MANFAAT PUASA BAGI KESEHATAN JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH


PUASA BISA TURUNKAN GULA DARAH ,KENDALIKAN TEKANAN DARAH ,DAN KOLESTROL

Surabaya, eHealth. Bulan Ramadhan adalah bulan untuk ber-instropeksi diri terhadap apa yang telah kita perbuat selama ini, termasuk gaya hidup dan kesehatan. Seperti yang kita tahu, puasa juga bermanfaat untuk “mengistirahatkan” bagian-bagian tubuh kita yang selama ini telah “bekerja keras” untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan kita, salah satunya adalah jantung dan pembuluh darah.
Seperti yang diungkapkan Taruna Ikrar, MD., PhD, Specialist and Scieintist dari University of California, School of Medicine, Irvine, USA, yang dikutip dari Republika, bagi penyakit kardiovaskuler, tidak ada penanggulangan yang lebih baik selain mencegahnya. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbaiki gaya hidup sehat, melaksanakan pola makanan yang sehat (memperbanyak makan makanan berserat dan bersayur, serta tidak makan berlebihan makanan yang mengandung lemak dan kolesterol tinggi), serta dilanjutkan dengan olah raga atau aktivitas yang teratur.
Nah, dengan berpuasa, akan melatih seseorang untuk hidup teratur, serta mencegah kelebihan makan. Menurut penelitian, puasa dapat menyehatkan tubuh, sebab makanan berkaitan erat dengan proses metabolisme tubuh. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL and apoprotein alfa1, dan penurunan LDL ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Beberapa penelitian menunjukkan saat puasa ramadan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperanan bagi peningkatan kesehatan manusia.
Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pebuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah rterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.
Puasa bisa menurunkan kadar gula darah, kolesterol dan mengendalikan tekanan darah. Itulah sebabnya, puasa sangat dianjurkan bagi perawatan mereka yang menderita penyakit diabetes, kolesterol tinggi, kegemukan dan darah tinggi. Dalam kondisi tertentu, seorang pasien bahkan dibolehkan berpuasa, kecuali mereka yang menderita sakit diabetes yang sudah parah, jantung koroner dan batu ginjal. Puasa dapat menjaga perut yang penuh disebabkan banyak makan adalah penyebab utama kepada bermacam-macam penyakit khususnya obesitas, hiperkolesterol, diabetes dan penyakit yang diakibatkan kelebihan nutrisi lainnya.
Penghentian konsumsi air selama puasa sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu hal ini akan member perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air dalam puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.
Dalam keadaan puasa ternyata dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Penelitian menunjukkan saat puasa terjadi pengkatan limfosit hingga sepuluh kali lipat. Kendati keseluruhan sel darah putih tidak berubah ternyata sel T mengalani kenaikkan pesat. Perubahan aksidental lipoprotein yang berkepadatan rendah (LDL), tanpa diikuti penambahan HDL. LDL merupakan model lipoprotein yang meberika pengaruh stumulatif bagi respon imunitas tubuh.
Pada penelitian terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar apobetta, menaikkan kadar apoalfa1 dibandingkan sebelum puasa. Kondisi tersebut dapat menjauhkan seragan penyakit jantung dan pembuluh darah.
Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.
Sebuah tulisan penelitian yang dilakukan Dr. Ratey, seorang psikiaters dari Harvard, mengungkapkan bahwa pengaturan dan pembatasan asupan kalori akan meningkatkan kinerja otak. Dr. Ratey melakukan penelitian terhadap mereka yang berpuasa dan memantau otak mereka dengan alat yang disebut “functional Magnetic Resonance Imaging” (fMRI). Hasil pemantauan itu menyimpulkan bahwa setiap individu obyek menunjukkan aktivitas “motor cortex” yang meningkat secara konsisten dan signifikan.
Ilmuwan di bidang neurologi yang bernama Mark Mattson, Ph.D., seorang kepala laboratorium neuroscience di NIH’s National Institute on Aging. Dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa diet yang tepat seperti berpuasa, secara signifikan bisa melindungi otak dari penyakit de-generatif seperti Alzheimer atau Parkinson. Hasil penelitiannya menunjukkan, bahwa diet dengan membatasi masukan kalori 30% sampai 50% dari tingkat normal, berdampak pada menurunnya denyut jantung dan tekanan darah, dan sekaligus peremajaan sel-sel otak.

PENDEKATAN ILMIAH DALAM PRAKTEK FARMASI KLINIK




Terjadi perubahan paradigma farmasi yang mendasar dalam dekade terkahir, yaitu perubahann paradigma dari product oriented menjadi patient oriented. Tuntutan pada paradigma patient oriented, farmasis tidak hanya berorientasi hanya kepada produk, namun juga dituntut untuk berorientasi kepada pasien, sehingga diharapkan farmasis dapat memberikan kontribusi keilmuannya secara aktif dalam meningkatkan kualitas hidup pasien.  Secara historis, perkembangan farmasi global melalui tahapan-tahapan periode. Tahap tradisional terjadi sebelum tahun 1940-an dimana fungsi dan peranan farmasis hanya berorientasi kepada produk, seperti kegiatan menyediakan, membuat dan mendistribusikan obat. Kegiatan ini menekankan pada ilmu dan seni meracik obat dalam skala kecil untuk kebutuhan pengobatan di rumah sakit ataupun di komunitas. Tahap ini mulai goyah ketika mulai berkembangnya farmasi industri yang memproduksi obat dalam skala besar. Periode tersebut terjadi sekitar tahun 1940-an, dimana peresepan tidak lagi menekankan pada obat-obatan yang membutuhkan peracikan, namun peresapan berisikan obat-obatan dalam sediaan jadi yang diproduksi oleh industri farmasi dalam skala besar. Semakin berkembangnya ilmu kedokteran pada tahun 1960 hingga 1970-an ditandai dengan mulai bermunculan berbagai jenis obat-obatan baru serta berkembangnya metode dan alat-alat diagnosa yang baru sehingga menimbulkan permasalahan-permasalahan baru dalam proses penggunaan obat. Hal tersebut memunculkan tahapan transisional, dimana tuntutan terhadap kontribusi farmasis dalam dunia kesehatan semakin tinggi. Pada masa tersebut banyak kalangan memandang bahwa peran farmasis tidak difungsikan sebagaimana kompetensi yang dimilikinya, sehingga di Amerika dan Inggris pada tahun 1960-an muncul istilah farmasi klinik.
Periode awal famasi klinik ditunjukkan dengan adanya farmasis yang mulai mengembangkan fungsi-fungsi baru dan mencoba menerapkannya, sebagai contoh adalah dimulainya kegiatan farmasis bangsal yang menempatkan farmasis di bangsal-bangsal rawat inap untuk memberikan kontribusi keilmuannya dalam rangka meningkatkan kualitas hidup pasien, meskipun kontribusi tersebut masih dirasakan terbatas. Penerapan fungsi-fungsi baru pada masa itu bukanlah tanpa kendala, kendala yang ditemui diantaranya adalah banyaknya pertentangan dari dokter, perawat dan farmasis, namun terdapat pula faksi-faksi yang mendukung fungsi-fungsi baru tersebut untuk terus dilakukan dan dikembanngkan. Kegigihan dan semangat untuk menjawab tuntutan berbagai kalangan mengenai peran farmasis ditunjukkan dari masa ke masa, sehingga lahirlah periode Pharmaceutical care dimana clinical pharmacy services diberikan dengan semakin baik dan paripurna.
Periode Pharmaceutical Care ditunjukkan dengan berkembangnya pendidikan tinggi farmasi yang berbasiskan farmasi klinik. Hal tersebut ditandai dengan munculnya pendidikan farmasi klinik yang sifatnya spesialistik, contohnya  farmasi klinik spesialis penyakit infeksi, kardiologi, onkologi, pelayanan informasi obat dan lain lain. Kehadiran farmasis berkeahlian klinik di negara-negara maju makin dirasakan sangat penting, mengingat makin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang kesehatan. Penanganan pasien dilakukan melalui sebuah tim multi profesi kesehatan yang meliputi, dokter, farmasis, perawat dan tenaga kesehatan lainnya . Adanya sinergi keilmuan lintas profesi yang baik diantara profesi kesehatan dalam penanganan pasien, akan memberikan dampak yang baik bagi outcome clinic pasien yang ditanganinya.

Farmasi klinik
Clinical Resources and Audit Group (1996) mendefinisikan farmasi klinik sebagai “ A discipline concerned with the application of pharmaceutical expertise to help maximise drug efficacy and minimize drug toxicity in individual patients”. Menurut Siregar (2004) farmasi klinik didefinisikan sebagai suatu keahlian khas ilmu kesehatan yang bertanggung jawab  untuk memastikan penggunaan obat yang aman dan sesuai dengan kebutuhan pasien, melalui penerapan pengetahuan dan berbagai fungsi terspesialisasi dalam perawatan pasien yang memerlukan pendidikan khusus dan atau pelatihan yang terstruktur. Berdasarkan definisi tersebut, dapat dirumuskan tujuan farmasi klinik yaitu memaksimalkan efek terapeutik, meminimalkan resiko/toksisitas obat, meminimalkan biaya dan menghormati pilihan pasien.
Kegiatan farmasi klinik tidak hanya memberikan saran professional pada saat peresepan saja namun kegiatan farmasi klinik mencakup kegiatan sebelum persepan, saat persepan dan setelah peresepan. Kegiatan farmasi klinik sebelum peresepan meliputi setiap kegiatan yang mempengaruhi kebijakan  peresepan, seperti penyusunan formularium rumah sakit, mendukung informasi dalam menetapkan kebijakan peresepan rumah sakit, evaluasi obat. Kegiatan farmasi klinik selama peresapan contohnya adalah memberikan saran profesional kepada dokter atau tenaga kesehatan lainnya terkait dengan terapi pada saat peresepan sedang dilakukan. Sedangkan kegiatan farmasi klinik sesudah peresepan yaitu setiap kegiatan yang berfokus kepada pengoreksian dan penyempurnaan peresepan, seperti  monitoring DRPs, monitoring efek obat, outcome research dan Drug Use Evaluation (DUE).
Farmasis klinik berperan dalam mengidentifikasi adanya  Drug Related Problems (DRPs).  Drug Related Problems (DRPs) adalah suatu kejadian atau situasi yang menyangkut terapi obat, yang mempengaruhi secara potensial atau aktual hasil akhir pasien. Menurut Koda-Kimble (2005), DRPs diklasifikasikan, sebagai berikut :
  1. Kebutuhan akan obat (drug needed)
    • Obat diindikasikan tetapi tidak diresepkan
    • Problem medis sudah jelas tetapi tidak diterapi
    • Obat yang diresepkan benar, tetapi tidak digunakan (non compliance)
  2. Ketidaktepatan obat (wrong/inappropriate drug)
    • Tidak ada problem medis yang jelas untuk penggunaan suatu obat
    • Obat tidak sesuai dengan problem medis yang ada
    • Problem medis dapat sembuh sendiri tanpa diberi obat
    • Duplikasi terapi
    • Obat mahal, tetapi ada alternatif yang lebih murah
    • Obat tidak ada diformularium
    • Pemberian tidak memperhitungkan kondisi pasien
  3. Ketidaktepatan dosis (wrong / inappropriate dose)
    • Dosis terlalu tinggi
    • Penggunaan yang berlebihan oleh pasien (over compliance)
    • Dosis terlalu rendah
    • Penggunaan yang kurang oleh pasien (under compliance)
    • Ketidaktepatan interval dosis
  4. Efek buruk obat (adverse drug reaction)
    • Efek samping
    • Alergi
    • Obat memicu kerusakan tubuh
    • Obat memicu perubahan nilai pemeriksaan laboratorium
  5. Interaksi obat (drug interaction)
    • Interaksi antara obat dengan obat/herbal
    • Interaksi obat dengan makanan
    • Interaksi obat dengan pengujian laboratorium
Secara garis besar kegiatan farmasi klinik meliputi pemantauan dan evaluasi penggunaan obat, pelayanan farmasi di bangsal, pelayanan informasi obat, penelitian dan pengembangan. Kegiatan farmasi klinik memiliki karakteristik, antara lain : berorientsi kepada pasien; terlibat langsung dalam perawatan pasien; bersifat pasif, dengan melakukan intervensi setelah pengobatan dimulai atau memberikan informasi jika diperlukan; bersifat aktif, dengan memberikan masukan kepada dokter atau tenaga kesehatan lainnya terkait dengan pengobatan pasien; bertanggung jawab terhadap setiap saran yang diberikan; menjadi mitra sejajar dengan profesi kesehatan lainnya (dokter, perawat dan tenga kesehatan lainnya). Keterampilan dalam melakukan praktek farmasi klinik memerlukan pemahaman keilmuan, seperti :
  1. Konsep-konsep penyakit (anatomi dan fisiologi manusia, patofisiologi, patogenesis)
  2. Penatalaksanaan Penyakit (farmakologi, farmakoterapi dan product knowledge)
  3. Teknik komunikasi dan konseling
  4. Pemahaman Evidence Based Medicine (EBM)  dan kemampuan melakukan penelusurannya
  5. Keilmuan farmasi praktis lainnya

Evidence Based Medicine (EBM) Sebagai Pendekatan Praktek Farmasi Klinik
Perkembangan ilmu pengetahuan dibidang kesehatan berjalan sangat cepat, hal tersebut sejalan dengan berkembangnya inovasi-inovasi baru di bidang farmasi maupun kedokteran. Paradigma lama bahwa pengobatan berdasarkan suatu pengalaman dan uji coba (trial and error) mulai bergeser kearah paradigma yang disebut dengan Evidence Based Medicine (EBM). Dalam terminologi EBM, pengobatan harus berdasarkan bukti ilmiah atau hal lainnya yang dapat dipertanggung jawabkan, sehingga pemahaman mengenai EBM sangat diperlukan bagi praktisi kesehatan yang terjun didalam dunia klinis.
Di bidang farmasi klinik Evidence Based Medicine berperan dalam mendukung  proses-proses penggunaan obat (drug uses proceses), antara lain keputusan menggunakan terapi obat, pemilihan obat, penentuan regimen obat, labeling dan dispensing, edukasi pasien, monitoring obat , tindak lanjut monitoring obat dan evaluasi. Penggunaan EBM dibidang faramsi klinik diharapkan dapat memberikan pengobatan yang rasional dan sesuai dengan outcome klinis yang diharapkan. Selain itu, kebutuhan EBM menjadi sangat diperlukan untuk seorang farmasis klinik untuk meyakinkan kepada dokter bahwa rekomendasi yang diberikan merupakan hal yang perlu dilaksanakan untuk mencapai tujuan terapi.
Evidence Based Medicine didefinisikan sebagai suatu pendekatan pada praktek medis yang menggunakan hasil penelitian mengenai patient care dan bukti objektif lainnya yang diperoleh sebagai komponen dalam membuat keputusan klinis. Terdapat beberapa  istilah yang sering digunakan dalam EBM, antaralain (1) Evidence Based Diagnose, merupakan EBM yang biasa digunakan oleh dokter sebagai komponen dalam menegakkan diagnosa, (2) Evidence Based Nursing, merupakan EBM yang biasa digunakan oleh perawat dalam menjalankan Nursing Care, (3) Evidence Based Pharmacotherapy, merupakan EBM yang digunakan oleh farmasis dalam terapi.
Berdasarkan klasifikasi Agency for Health Care Policy and Research (AHCPR), US, terdapat 7 level Evidence Based Medicin. Level-level EBM tersebut didasarkan atas kekuatan desain penelitian atau hal lainnya yang layak digunakan sebagai EBM. 7 level EBM tersebut, antara lain :
Level I         Merupakan hasil penelitian dengan metode eksperimental, Randomized Control Trial (RCT), dengan sampel yang besar yang diperoleh dari gabungan pusat-pusat penelitian dengan desain yang sama (meta analisis & multicenter)
Level II       Merupakan hasil penelitian dengan metode eksperimental, Randomized Control Trial (RCT) yang diperoleh dari satu pusat penelitian saja
Level III      Merupakan hasil penelitian dengan metode observasional, kohort, desain penelitian yang baik
Level IV      Merupakan hasil penelitian dengan metode observasional, case control, desain penelitian yang baik
Level V      Merupakan hasil penelitian tanpa kelompok kontrol atau kelompok kontrol yang kurang, dengan desain penelitian yang baik
Level VI      Merupakan EBM yang memiliki banyak pertentangan dikalangan medis, tetapi cenderung di favoritkan sebagai EBM
Level VII     Pendapat atau opini Ahli.

Langkah-langkah Implementasi EBM
Implementasi EBM membutuhkan langkah-langkah yang tepat agar didapatkannya EBM yang dapat digunakan untuk memcahlan permasalan yang kita temui. Langkah-langkah dalam dalam
mengimplementasikan EBM, antara lain :
1. Menciptakan suatu pertanyaan klinis
Ciptakan pertanyaan klinis yang merepresentasikan keadaan pasien yang sesungguhnya. Pertanyaan tersebut meliputi PICO (Patient, Intervention, Comparation, Outcome).
2. Pencarian EBM
Lakukan penulusuran sumber informasi berdasarkan pertanyaan klinis yang dibuat. Sumber informasi dapat diperoleh melalui:
  • Sumber informasi non-elektronik, seperti literatur primer (printed journal), sekunder (kumpulan abstrak), sekunder (text book), opini ahli
  • Sumber informasi elektronik, seperti website, artikel ilmiah dan lain-lain.
3. Evaluasi hasil EBM
Setelah didapatkan EBM melalui penelusuran EBM, maka perlu dilakukan evaluasi terhadap hasil EBM yang diperlukan. Diperlukan kehalian dalam critical appraisal evidence dengan melihat validitas dan keterpakaiannya pada permasalahan yang kita temui. Karena tidak semua sumber informasi menunujkkan validitas yang baik serta nilai aplikasi yang baik terhadap permasalahn yang kita hadapi.Implementasi EBM
Setelah didapatkan EBM yang telah di evaluasi, gabungkan keahlian klinik dengan hasil evidence untuk melakukan intervensi klinik
4. Evaluasi outcome klinis
Lakukan monitoring terhadap intervensi klinik yang kita lakukan. Jika hasilnya kurang baik maka lakukan evaluasi baik terhadap EBM maupun terhadap problem medis yang ada.
Penutup
Perkembangan dunia farmasi global menunjukkan tren terhadap tuntutan implementasi farmasi klinik dalam pelayanan kefarmasian. Tuntutan tersebut harus dijawab oleh kalangan famasis / apoteker jika ingin tampil sebagai suatu profesi yang memiliki peran dan dihargai oleh seluruh lapisan masyarakat. Pemahaman terhadap bekal keilmuan yang mendukung praktek farmasi klinik harus terus di explorasi tanpa perlu menunggu tersedianya pendidikan formal maupun informal, karena ciri dari suatu profesi salah satunya adalah life long learner. Evidence Based Medicine harus menjadi dasar farmasis/apoteker dalam mengambil keputusan klinis, oleh karena itu pemahaman terhadap EBM mutlak diperlukan dalam praktek farmasi klinik. EBM dapat memberikan manfaat,antara lain meningkatkan kepercayaan diri dalam memberikan saran professional, meningktakan komunikasi yang efektif terhadap tenaga kesehatan, menambah wawasan dan dapat meningkatkan outcome klinis pasien.
Daftar Pustaka
Aslam M, Tan CK, Prayitno A, 2003, Farmasi Klinis, Jakarta, Gramedia Elex Media Komputindo.
Chiquette, E and Posey, LM., 2005, Evidence Based Medicine in JT. DiPiro, RL. Talbert, GC. Yee, GR. Matzke, BG. Wells, LM. Posey, (Eds), Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 6th edition, McGraw-Hill, New York, 27-37.
Koda-Kimble M.A., Young L.Y., Kradjan W.A., Guglielmo B.J., 2005, Applied Theurapeutics : The Clinical Use of Drugs, 8th edition, Lippincott Williams and Wilkin, Philadelphia.



















Template by:

Free Blog Templates